"Kuli Uyah" begitu dulu waktu kecil saya menyebutnya, artinya adalah buruh pikul garam. Namun tentu saja itu hanya sebuah joke untuk mengatakan sedang menempuh pendidikan tinggi. Jelas mereka yang Kuliah bukanlah seorang buruh, walaupun setelahnya, sementara atau seterusnya, mereka menjadi buruh kantoran.
Kuliah kata orang menyenangkan, tapi sepertinya tidak juga. Buktinya banyak mahasiswa yang mengeluh, mulai dari materi sampai dosen juga praktikumnya. Tetapi yang pasti, mahasiswa benar dan yang lain harus mempermudah jalan mereka. Dan yang pasti saat ini lebih lagi, bahwa mahasiswa menjadi raja di perguruan tinggi. Wow.. Ya karena perguruan tinggi butuh mahasiswa supaya tetap eksis.
Tetapi apakah filosofi belajar sebenarnya?
Sebenarnya ada yang hilang dalam proses penerimaan mahasiswa baru dewasa ini. Semenjak hilangnya ospek, ada esensi yang juga dihilangkan dalam penerimaan mahasiswa baru. Pendidikan tinggi berbeda dengan pendidikan menengah. Semasa pendidikan dasar dan menengah para peserta didik menerima semua dari pendidik mereka. Sedikit sekali inisiatif yang dituntutkan kepada peserta didik. sementara pendidikan tinggi menuntut peran serta aktif dari peserta didiknya. Dan ketidaksiapan peserta didik pendidikan tinggi dipengaruhi oleh hilangnya persiapan mental untuk menghadapi pendidikan tinggi dalam penerimaan mahasiswa baru.
Apa yang hilang?
Salah satu yang sangat mendasar yang hilang dalam penyambutan mahasiswa baru adalah pendidikan disiplin. Disiplin adalah modal dasar dalam menuntut ilmu. Disiplin adalah akar kata yang sama yang ditunjukkan untuk menunjukkan peserta didik (disciple). Tanpa kedisiplinan ilmu akan merosot karena tidak ada penghormatan terhadap ilmu yang dipelajari. Dan karenanya wajar jika banyak mahasiswa hanya mengejar point dalam grade mereka. Disisi lain para dosen dituntut untuk memberikan nilai tinggi, walaupun mungkin kemampuannya tidak sampai. IPK hanyalah salah satu indikasi, tapi bukan indikasi segalanya. Apalagi bila kita memperhatikan keadaan pendidikan saat ini. Tanpa belajar kedisiplinan peserta didik dengan mudah mendapatkan IP dan IPK di atas 3 (tiga).
Sejujurnya sedih memperhatikan pendidikan saat ini. Karena itu sebagai pendidik, saya tidak hanya akan berbicara mengenai point yang para peserta didik harapkan, namun juga berbicara mengenai karakter mereka dalam memperoleh point. Sehingga pendidikan tinggi sungguh sebuah tempat pendidikan dan bukan semata-mata tempat pengajaran.
Akhirnya, para peserta didik, belajarlah disiplin untuk mencapai cita-citamu dan raihlah itu dengan segala sukacita sehingga masa depanmu sungguh cerah karena kamu kuliah dengan disiplin.